Dua orang sahabat yang berbeda adat dan suku. Yang satu bernama Wulan Sari asal Garut dan yang satu bernama Yanti estiningrum asal Tegal. Keduanya tidak fasih berbahasa Indonesia, tapi mereka bersosialisasi menggunakan bahasa yang dipakai masing-masing ditambah bahasa isyarat. Wulan menggunakan Bahasa Sunda dan Yanti menggunakan Bahasa Jawa yang kental dan meddok. Mereka bertemu karena satu kampus di Bandung.
“Yanti, ieu teh buku nu saha?” Wulan bertanya kepada Yanti sambil ujung jari telunjuknya menunjuk buku yang ia pegang. Yanti hanya menggeleng-gelengkan kepala yang menandakan tidak tahu buku itu punya siapa.
Dosen mata pelajaran Pancasila pun masuk ke kelas. Seluruh mahasiswa segera memasuki ruang kelas dan duduk manis ditempatnya masing-masing, begitu juga dengan Wulan dan Yanti yang duduk bersebelahan.
“Abdi teu ngarti dosen eta teh keur nerangkeun naon?!” jari telunjuk Wulan menunjuk dosennya dan menggelengkan kepala. “kembar, aku be ora ngerti.” Yanti mengangguk pelan. Mereka pun tersenyum aneh.
“Sumpah pemuda dibacakan pada kongres pemuda yang diadakan di Waltervreden dan sekarang Jakarta. Tolong kamu sebutkan isi dari sumpah pemuda. Saya ingin mengetes apakah kamu hafal atau tidak.”
“Sa. Saya Bu ?” tanya Desi, mahasiswa yang mahir empat bahasa daerah di Indonesia.
“Iya kamu.”
“Baik bu. ‘Kami putra dan putri Indonesia
Mengaku bertumpah darah yang Satu
Tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Mengaku berbangsa yang Satu
Bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Menjunjung bahasa persatuan
Bahasa Indonesia’
Sudah bu.”
Tiba-tiba Wulan dan Yanti saling melihat dan berpandangan. Mereka masih sedikit mengerti tentang isi dari Sumpah Pemuda tersebut, karena pada waktu masih duduk dibangku sekolah di daerahnya masing-masing, mereka mengerti karena bahasa yang dipakai sama seperti bahasa yang mereka pakai Sunda dan Jawa.
Beberapa jam berlalu dan dosennya keluar dari ruang kelas. Yanti memanggil Desi. “Desi ! Ningkene aku pengin koe ngartini primen yang aku omongin karo Wulan.”
Desi segera menghampiri Wulan dan Yanti. Yanti menjelaskan, “Kok, nyong merasa kita durung bersiji. Karena bahasa yang kita nganggo ora kembar dan durung bahasa persijian, yakue Indonesia.” Desi segera menterjemahkan omongan Yanti kepada Wulan. “Nuhun, Abdi oge hayang nyarios sapertos eta.” Desi menterjemahkan lagi omongan Wulan ke Yanti. Dari beberapa perbincangan mereka berdua yang dibantu oleh penerjemah yaitu Desi, akhirnya mereka mengambil keputusan mereka ingin belajar Bahasa Indonesia yang lebih fasih. Karena pada teks Sumpah Pemuda yang tadi dibacakan oleh Desi salah satunya bahwa : ‘Kami putra dan putri Indonesia
Menjunjung bahasa persatuan
Bahasa Indonesia’
Menurut Wulan dan Yanti, mereka berarti belum saling bersatu. Karena bahasa yang mereka pakai bukan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia melainkan Bahasa daerah mereka, yaitu Jawa dan Sunda. Kebetulan Desi orang Jakarta yang bisa empat bahasa Daerah. Tiba-tiba terbesit ide di pikiran mereka untuk belajar Berbahasa Indonesia dengan bantuan Desi. “Yo wis, koe olis senawu Bahasa Indonesia karo aku. Anjeunna tiasa di ajar basa Indonesia jeung Abdi.” Yanti dan Wulan mengangguk dan merangkul bahu Desi sambil melempar senyum.
Selama lima bulan mereka belajar Bahasa Indonesia dengan Desi. Banyak sekali kemajuan, bahkan mereka sudah bisa saling bersosialisasi satu dengan yang lainnya menggunakan Bahasa Indonesia.
“Yanti, memang enak yah kalau kita bisa berbahasa Indonesia. Kita lebih paham apa yang lawan bicara kita ucapkan. Kita juga bisa menjunjung tinggi Bahasa Indonesia.” Ucap Wulan tersenyum riang penuh kesenangan. “Ia Wulan, aku juga berpikiran sama dengan mu. Tapi, kita juga tidak boleh melupakan bahasa asli kita. Kamu Sunda dan aku Jawa.”
“Dan jangan sekali-kali kalian terpengaruh oleh budaya barat yah. Because, we just love Indonesia” Campur Desi. “Hey ! kamu yang terpengaruh dengan bahasa asing!”
“Yah, kalau seperti itu tidak terlalu masalah kan yan, lan . hehe”
Mereka bertiga tertawa lepas.
Intinya memiliki dan memakai bahasa daerah memang asyik, tapi fasih berbahasa Indonesia yang lebih asyik.
‘Junjung tinggi Tanah Air Indonesia
Junjung tinggi Bangsa Indonesia
Dan Junjung tinggi Bahasa Indonesia.’
Sunday, May 1, 2011
PAHLAWAN LINGKUNGAN
Seorang Ibu-ibu tua yang bekerja sebagai penyapu jalanan dan pemungut sampah . Ia bekerja didepan sebuah sekolah SMA 29 .
“Aah, buang disini aja . Ngapain repot-repot ketempat sampah yang jauh itu .” sahut Rani sambil melempar kaleng minuman nya . Rani adalah siswa SMA 29 .
“Nak, jangan buang sampah sembarangan. Kalau tiap hari kamu melakukan hal seperti itu, sampah nya akan menggunung dan akan menyebabkan banjir nak .” ucap ibu tua itu lembut dan langsung meneruskan menyapu jalanan . Rani seketika menarik baju ibu tua itu .
“Woy ! sok tau banget sih lo ! lo kan kerja nya mungutin sampah. Ya elo dong yang mungutin sampahnya . Ga usah pake nasehatin orang segala! Ngerti ga ?” Rani segera pergi meninggalkan Ibu tua itu. Ibu itu bernama Aminah dan berumur 47 tahun .
Ibu aminah itu menatap Rani tajam . Ia langsung memungut kaleng minuman yang Rani lemparkan tadi .
Esoknya, Rani melakukan hal yang sama. Tetapi, Ibu tua itu membiarkan sampah Rani tergeletak . Tiap hari sejak hari itu ibu Aminah membiarkan sampah-sampah yang Rani buang menggunung , agar Rani sadar berapa banyak sampah yang ia buang . Tetapi, suatu hari Ibu Aminah itu menyerah, ternyata Rani memang tidak sadar kalau ia yang menyebabkan sampah-sampah nya menggunung . Ibu Aminah terpaksa mengangkut semua sampah-sampah itu dan membawa nya ke tempat pembuangan sampah .
“Nak, jangan sekali lagi kamu buang sampah sembarangan . disana ada tempat sampah . Kenapa tidak kamu buang ketempat sampah itu . Jakarta sering terjadi banjir . kalau manusia di Jakarta seperti kamu, pasti Jakarta tidak akan selamat nak . Kamu harus sadar .” Nasehat Ibu tua itu . “ APA SIH LO ?! SOK TAU ! NYEBELIN BANGET JADI GEMBEL ! GEMBEL AJA BLAGU BANGET ! NYEBELIN LO ! AWAS SEKALI LAGI LO SOK NASEHATIN GUE KAYA GINI ! AWAS LO !” bentak Rani dan ia mendorong Ibu Aminah sampai terjatuh ke aspal. Rani segera pergi . Kedua bola mata Ibu Aminah berkaca-kaca . Ia sedih bukan karena perlakuan Rani kepadanya , tapi ia sedih kenapa masih ada orang yang tidak peduli akan lingkungannya. Padahal demi kepentingan diri mereka sendiri juga . Tiba-tiba terlihat seorang Siswa SMA 29 datang dan ia segera membantu Ibu Aminah berdiri tegak kembali .
“Bu, Ibu tidak apa-apa ?”
“Tidak apa-apa nak, terimakasih yah”
“Dia rani Bu, dia kok jahat banget sama Ibu yah ?”
“ Mungkin itu didikan yang salah dari orang tuanya. Nama mu siapa ?”
“Nama saya Mytha Bu. Nama Ibu siapa dan Ibu tinggal dimana ?”
“Nama Ibu Aminah dan Ibu tinggal di belakang sekolah ini nak Mytha.”
“Oh begitu. Ibu punya suami dan anak?”
Seketika Ibu tua itu terdiam lama, entah apa yang ada dalam benak dan pikirannya .
“Bu ?”
“Ehm, Ibu punya 3 anak dan suami Ibu sudah pergi meninggalkan Ibu dan anak-anak Ibu sejak 4 tahun yang lalu .”
“kemana bu?”
“Suami Ibu pergi menghadap tuhan”
Mytha langsung mengerti dan merasa bersalah atas ucapannya, kenapa ia harus menanyakan pertanyaan bodoh semacam itu dan membuat Ibu Aminah sedih.
“Ya ampun Bu, maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat Ibu sedih.”
“Tidak apa-apa nak Mytha .”
Mytha merangkul pundak Ibu Aminah. Mytha mengajak Ibu Aminah makan bubur ayam . Sembari makan, ia bertanya-tanya tentang kehidupan seorang Ibu Aminah. Ia tercengang ketika ibu aminah berkata, ia harus membiayai sekolah ketiga anaknya, yang masing-masing bersekolah SD, dan SMP. Juga membiayai hidup mereka dan dirinya hanya dari hasil bekerja menyapu jalanan dan memungut sampah, yang gajinya tidak seberapa . Mytha pun lebih tercengang, ketika Ibu Aminah bilang kalau ia sering menanam sebuah tanaman dilahan kosong Jakarta . Menurutnya Jakarta harus kembali hijau. Ia ingin cucu, cicit dan keturunannya nanti menikmati kehijauan jakarta . Memang mulia . Tiba-tiba suatu ide terlintas dipikiran Mytha . Ia ingin Pemerintah memberi penghargaan terhadap Ibu Aminah. Walaupun dia baru mengenal Ibu Aminah, tapi dia bisa merasakan kepedulian Ibu Aminah terhadap lingkungan yang sungguh luar biasa. Karena, jaman sekarang ini jarang sekali ditemukan orang seperti Ibu Aminah. Mytha juga sadar dirinya belum tentu bisa melakukan apa yang dilakukan Bu Aminah.
Esoknya, Mytha mengirim surat kepada Pemerintah. Tiap hari sepulang sekolah ia rajin mengirim terus surat itu sampai mendapatkan balasan nya .
Berhari-hari ia menunggu balasan surat, siang harinya petugas pos datang mengantarkan surat dari Pemerintah yang inti dari isi surat itu berisi, Pemerintah memanggilnya untuk datang ke gedung Pemerintahan untuk menjelaskan lebih rinci . Ia pun segera ke gedung Pemerintah itu dan menjelaskan semuanya . Mytha ingin Pemerintah memberi penghargaan kepada Ibu Aminah. Beberapa orang yang ada didalam gedung itu pun setuju dan akhirnya Pemerintah menyuruh Mytha untuk membawa Ibu Aminah itu ke gedung ini .
“Terima kasih pak, terimakasih banyak.”
Pada pagi harinya, Mytha mencari-cari Ibu Aminah. Ia bertanya ke beberapa orang, tapi mereka tidak mengetahui dimana Ibu Aminah.
“Dimana ibu aminah yah?”
Kedua bola matanya langsung menatap ke arah ujung jalan .
“Bu ! Ibu !” sahutnya, ia segera menghampiri Ibu Aminah tersebut .
“Bu, nanti sehabis pulang sekolah ibu ikut saya yah ?”
“Mau kemana nak Mytha ?”
Mytha tersenyum penuh kebahagiaan .
“Udah, Ibu pokok nya ikut aja yah. Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Nanti Ibu juga tau.”
Mytha segera berlari memasuki gerbang sekolahnya yang hampir ditutup.
Beberpa jam berlalu dan bel pulang sekolah berbunyi nyaring . Mytha bergegas berlari cepat dan menghampiri Ibu Aminah yang sedang menyapu jalanan .
“Bu, ayo !” Ibu Aminah mengangguk kecil .
Sesampainya digedung pemerintah , Ibu Aminah terus bertanya-tanya kepada Mytha kenapa ia mengajaknya kesini, tapi Mytha tidak ingin menjelaskannya dulu. Mereka pun memasuki pintu . Mytha bertemu para pejabat. Pemerintah segera menjelaskan semuanya kepada Ibu Aminah dan Pemerintah tersebut memberikan sebuah penghargaan berupa uang dan gelar, yaitu “PAHLAWAN LINGKUNGAN” .
Ibu Aminah kaget, tidak menyangka dan tidak percaya . Ia pun segera memeluk tubuh Mytha erat-erat .
“Terimakasih nak mytha. Terima kasih .”
“Iya Bu, Ibu tuh memang berhak mendapatkan semua ini. Semua yang Ibu lakukan sungguh mulia .”
Ibu Aminah meneteskan air mata kebahagiaan, begitu pun Mytha . Mereka berdua saling tersenyum penuh rasa bahagia.
by. arum
“Aah, buang disini aja . Ngapain repot-repot ketempat sampah yang jauh itu .” sahut Rani sambil melempar kaleng minuman nya . Rani adalah siswa SMA 29 .
“Nak, jangan buang sampah sembarangan. Kalau tiap hari kamu melakukan hal seperti itu, sampah nya akan menggunung dan akan menyebabkan banjir nak .” ucap ibu tua itu lembut dan langsung meneruskan menyapu jalanan . Rani seketika menarik baju ibu tua itu .
“Woy ! sok tau banget sih lo ! lo kan kerja nya mungutin sampah. Ya elo dong yang mungutin sampahnya . Ga usah pake nasehatin orang segala! Ngerti ga ?” Rani segera pergi meninggalkan Ibu tua itu. Ibu itu bernama Aminah dan berumur 47 tahun .
Ibu aminah itu menatap Rani tajam . Ia langsung memungut kaleng minuman yang Rani lemparkan tadi .
Esoknya, Rani melakukan hal yang sama. Tetapi, Ibu tua itu membiarkan sampah Rani tergeletak . Tiap hari sejak hari itu ibu Aminah membiarkan sampah-sampah yang Rani buang menggunung , agar Rani sadar berapa banyak sampah yang ia buang . Tetapi, suatu hari Ibu Aminah itu menyerah, ternyata Rani memang tidak sadar kalau ia yang menyebabkan sampah-sampah nya menggunung . Ibu Aminah terpaksa mengangkut semua sampah-sampah itu dan membawa nya ke tempat pembuangan sampah .
“Nak, jangan sekali lagi kamu buang sampah sembarangan . disana ada tempat sampah . Kenapa tidak kamu buang ketempat sampah itu . Jakarta sering terjadi banjir . kalau manusia di Jakarta seperti kamu, pasti Jakarta tidak akan selamat nak . Kamu harus sadar .” Nasehat Ibu tua itu . “ APA SIH LO ?! SOK TAU ! NYEBELIN BANGET JADI GEMBEL ! GEMBEL AJA BLAGU BANGET ! NYEBELIN LO ! AWAS SEKALI LAGI LO SOK NASEHATIN GUE KAYA GINI ! AWAS LO !” bentak Rani dan ia mendorong Ibu Aminah sampai terjatuh ke aspal. Rani segera pergi . Kedua bola mata Ibu Aminah berkaca-kaca . Ia sedih bukan karena perlakuan Rani kepadanya , tapi ia sedih kenapa masih ada orang yang tidak peduli akan lingkungannya. Padahal demi kepentingan diri mereka sendiri juga . Tiba-tiba terlihat seorang Siswa SMA 29 datang dan ia segera membantu Ibu Aminah berdiri tegak kembali .
“Bu, Ibu tidak apa-apa ?”
“Tidak apa-apa nak, terimakasih yah”
“Dia rani Bu, dia kok jahat banget sama Ibu yah ?”
“ Mungkin itu didikan yang salah dari orang tuanya. Nama mu siapa ?”
“Nama saya Mytha Bu. Nama Ibu siapa dan Ibu tinggal dimana ?”
“Nama Ibu Aminah dan Ibu tinggal di belakang sekolah ini nak Mytha.”
“Oh begitu. Ibu punya suami dan anak?”
Seketika Ibu tua itu terdiam lama, entah apa yang ada dalam benak dan pikirannya .
“Bu ?”
“Ehm, Ibu punya 3 anak dan suami Ibu sudah pergi meninggalkan Ibu dan anak-anak Ibu sejak 4 tahun yang lalu .”
“kemana bu?”
“Suami Ibu pergi menghadap tuhan”
Mytha langsung mengerti dan merasa bersalah atas ucapannya, kenapa ia harus menanyakan pertanyaan bodoh semacam itu dan membuat Ibu Aminah sedih.
“Ya ampun Bu, maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat Ibu sedih.”
“Tidak apa-apa nak Mytha .”
Mytha merangkul pundak Ibu Aminah. Mytha mengajak Ibu Aminah makan bubur ayam . Sembari makan, ia bertanya-tanya tentang kehidupan seorang Ibu Aminah. Ia tercengang ketika ibu aminah berkata, ia harus membiayai sekolah ketiga anaknya, yang masing-masing bersekolah SD, dan SMP. Juga membiayai hidup mereka dan dirinya hanya dari hasil bekerja menyapu jalanan dan memungut sampah, yang gajinya tidak seberapa . Mytha pun lebih tercengang, ketika Ibu Aminah bilang kalau ia sering menanam sebuah tanaman dilahan kosong Jakarta . Menurutnya Jakarta harus kembali hijau. Ia ingin cucu, cicit dan keturunannya nanti menikmati kehijauan jakarta . Memang mulia . Tiba-tiba suatu ide terlintas dipikiran Mytha . Ia ingin Pemerintah memberi penghargaan terhadap Ibu Aminah. Walaupun dia baru mengenal Ibu Aminah, tapi dia bisa merasakan kepedulian Ibu Aminah terhadap lingkungan yang sungguh luar biasa. Karena, jaman sekarang ini jarang sekali ditemukan orang seperti Ibu Aminah. Mytha juga sadar dirinya belum tentu bisa melakukan apa yang dilakukan Bu Aminah.
Esoknya, Mytha mengirim surat kepada Pemerintah. Tiap hari sepulang sekolah ia rajin mengirim terus surat itu sampai mendapatkan balasan nya .
Berhari-hari ia menunggu balasan surat, siang harinya petugas pos datang mengantarkan surat dari Pemerintah yang inti dari isi surat itu berisi, Pemerintah memanggilnya untuk datang ke gedung Pemerintahan untuk menjelaskan lebih rinci . Ia pun segera ke gedung Pemerintah itu dan menjelaskan semuanya . Mytha ingin Pemerintah memberi penghargaan kepada Ibu Aminah. Beberapa orang yang ada didalam gedung itu pun setuju dan akhirnya Pemerintah menyuruh Mytha untuk membawa Ibu Aminah itu ke gedung ini .
“Terima kasih pak, terimakasih banyak.”
Pada pagi harinya, Mytha mencari-cari Ibu Aminah. Ia bertanya ke beberapa orang, tapi mereka tidak mengetahui dimana Ibu Aminah.
“Dimana ibu aminah yah?”
Kedua bola matanya langsung menatap ke arah ujung jalan .
“Bu ! Ibu !” sahutnya, ia segera menghampiri Ibu Aminah tersebut .
“Bu, nanti sehabis pulang sekolah ibu ikut saya yah ?”
“Mau kemana nak Mytha ?”
Mytha tersenyum penuh kebahagiaan .
“Udah, Ibu pokok nya ikut aja yah. Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Nanti Ibu juga tau.”
Mytha segera berlari memasuki gerbang sekolahnya yang hampir ditutup.
Beberpa jam berlalu dan bel pulang sekolah berbunyi nyaring . Mytha bergegas berlari cepat dan menghampiri Ibu Aminah yang sedang menyapu jalanan .
“Bu, ayo !” Ibu Aminah mengangguk kecil .
Sesampainya digedung pemerintah , Ibu Aminah terus bertanya-tanya kepada Mytha kenapa ia mengajaknya kesini, tapi Mytha tidak ingin menjelaskannya dulu. Mereka pun memasuki pintu . Mytha bertemu para pejabat. Pemerintah segera menjelaskan semuanya kepada Ibu Aminah dan Pemerintah tersebut memberikan sebuah penghargaan berupa uang dan gelar, yaitu “PAHLAWAN LINGKUNGAN” .
Ibu Aminah kaget, tidak menyangka dan tidak percaya . Ia pun segera memeluk tubuh Mytha erat-erat .
“Terimakasih nak mytha. Terima kasih .”
“Iya Bu, Ibu tuh memang berhak mendapatkan semua ini. Semua yang Ibu lakukan sungguh mulia .”
Ibu Aminah meneteskan air mata kebahagiaan, begitu pun Mytha . Mereka berdua saling tersenyum penuh rasa bahagia.
by. arum
Friday, July 2, 2010
Gue : arum fadiah sherfiani, gue itu anggota RISE . RISE adalah nama fans untuk penggemar/pecinta Rio idola cilik3 . Gue bener2 ngfans,sayang sama Rio idolacilik3 . Gue memang belum pernah melihat Rio di pentas idola cilik3 secara langsung, maka dari itu gue ingin banget bisa ketemu sama Rio ic3 . Tapi, gue ga tau apakah gue berkesempatan untuk ketemu Rio . Impian gue itu
* ingin bisa ketemu sama Rio ic3
* ingin bisa bernyanyi bersama Rio ic3
* ingin bisa mahir bermain gitar seperti Rio ic3 .
Itulah impianku tentang Rio Ic3 .
Coba aja ada yang bisa mewujudkan itu, gue pasti akan senang bgt . Gue ga tau kenapa sengefans itu sama seseorang . Dan gue jujur baru pertama kali ngefans sama org seperti ini . Sahabat gue pun juga ngefans sama Rio ic3, tapi tak sehisteria gue. Kata sahabat2 gue pun , gue di bilang lebayy . RISE ..
Itu para teman2 ku di fansite mariostevano.ning.com
Rio its my dream .
:)
* ingin bisa ketemu sama Rio ic3
* ingin bisa bernyanyi bersama Rio ic3
* ingin bisa mahir bermain gitar seperti Rio ic3 .
Itulah impianku tentang Rio Ic3 .
Coba aja ada yang bisa mewujudkan itu, gue pasti akan senang bgt . Gue ga tau kenapa sengefans itu sama seseorang . Dan gue jujur baru pertama kali ngefans sama org seperti ini . Sahabat gue pun juga ngefans sama Rio ic3, tapi tak sehisteria gue. Kata sahabat2 gue pun , gue di bilang lebayy . RISE ..
Itu para teman2 ku di fansite mariostevano.ning.com
Rio its my dream .
:)
Subscribe to:
Posts (Atom)